PISANG CAVENDISH
Oleh
zaki thahair abdul mudzakir
Pisang (Musa sp.) merupakan komoditas buah tropis yang sangat popular di dunia. Pisang merupakan salah satu tanaman yang mempunyai prospek cerah di masa datang karena di seluruh dunia hampir setiap orang gemar mengkonsumsi buah pisang. Selain itu tanaman pisang sangat mudah dibudidayakan dan cepat menghasilkan sehingga lebih disukai petani untuk dibudidayakan. Banyak jenis tanaman pisang komersial yang telah dibudidayakan di Indonesia, salah satunya adalah pisang Cavendish (Musa paradisiaca L . cv. Cavendish).
Perkebunan pisang yang permanen (diusahakan terus menerus) dengan mudah dapat ditemukan di Meksiko, Jamaika, Amerika Tengah, Panama, Kolombia, Ekuador dan Filipina. Di negara tersebut, budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung oleh kultur teknis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan yang memenuhi standard internasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin diabaikan. Permintaan pisang dunia memang sangat besar terutama jenis pisang Cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia. (Direktorat Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Hortikultura, 2005).
Dari tahun ke tahun, produksi pisang dunia terus mengalami peningkatan, pada tahun 2005 tercatat bahwa produksi pisang dunia telah mencapai angka 72,5 juta ton. Sebagai salah satu negara produsen pisang dunia, Indonesia telah memproduksi sebanyak 6,20 % dari total produksi dunia dan 50 % produksi pisang Asia berasal dari Indonesia. Pada tahun 2000, luas areal tanaman pisang masih sekitar 73.339 ha dengan jumlah produksi sebesar 3,74 juta ton, kemudian pada tahun 2005 luas panen meningkat menjadi 101.463 ha dengan jumlah produksi sebesar 5,117 juta ton. Namun pada tahun 2006 produksi pisang menurun, produksi pisang Indonesia telah mencapai 5.037.427 ton dengan luas areal tanam 94.144 ha (Suyanti dan Supriyadi, 2008).
Sasaran ekspor pisang pada tahun 2025 sebesar 1.000.000 ton. Jepang, Korea, China, Singapura, Malaysia dan negara-negara asia lain. Jenis Pisang utama yang akan di ekspor adalah pisang Cavendish. Seperti Barangan, Mas dan juga kepok akan dirintis varietas andalan pisang Indonesia. Areal pengembangan pisang dipilih daerah yang masih terbebas dari serangan penyakit layu fusarium dan bakteri. Untuk mencapai sasaran 900.000 ton pada awal tahun 2025 tersebut maka pada tahun 2010 dan 2015 akan diadakan realisasi ekspor sebesar 30.000 ton dan 150.000 ton yang diharapkan dapat dipasok dari sentra-sentra produksi utama yang dikelola secara komersial (Direktorat Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Hortikultura, 2005).
Untuk memenuhi sasaran tersebut maka perlu adanya teknik perbanyakan bibit tanaman pisang Cavendish yang seragam, cepat, bebas hama dan penyakit serta dapat memproduksi bibit dalam jumlah banyak.
Pisang Cavendish biasanya diperbanyak secara vegetatif menggunakan anakan atau bonggolnya. Ukuran anakan yang cukup besar menyulitkan transportasi bibit dari satu tempat ke tempat penanamannya. Anakan yang diproduksi oleh satu induk pisang ukuran dan umurnya beragam, sehingga sangat sulit untuk memperoleh anakan berukuran seragam dalam jumlah memadai untuk perkebunan pisang secara komersial. Perbanyakan pisang Cavendish secara in vitro dapat mengatasi kendala-kendala tersebut.
Penggunaan metode kultur in vitro juga harus ditunjang dengan media kultur yang cocok, khususnya penggunaan zat pengatur tumbuh (zpt). Dalam kultur jaringan ada dua golongan zat pengatur tumbuh yang sangat penting yaitu sitokinin dan auksin (Gunawan, 1992).
Salah satu komponen media yang menentukan keberhasilan kultur in vitro adalah penggunaan jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh. Sitokinin atau campuran sitokinin dengan auksin rendah sering digunakan pada tahap penumbuhan dan penggandaan tunas aksilar atau untuk merangsang tunas-tunas adventif. Jenis sitokinin yang sering dipakai adalah Benzylaminopurine (BAP) karena efektifitasnya tinggi dan harganya relatif murah (Yusnita, 2004).
